
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN SUBANG

TAHUN 2021
BAB I
PENDAHULUAN
- Gambaran Umum
Asal nama Subang mempunyai bemacam-macam persepsi, sehingga ada pendekatan terhadap asal-usul kata Subang, tetapi sampai saat ini belum menjadi suatu kesimpulan untuk menjadi toponomi Subang sekarang.
Dari cerita rakyat berdasarkan histografi tradisional, Subang berasal dari nama seorang wanita, sebagaimana terdapat dalam Babad Siliwangi, yakni Subanglarang atau Subangkarancang. Hal itu dikuatkan pula oleh cerita yang terdapat pada Babad
Padjajaran.Kata Subang juga berasal dari kata Subang yang merupakan suatu tempat di daerah Kuningan, pada masa pemerintahan P & T Land yang dipimpin oleh PW. Hofland. PW Hofland merupakan orang Belanda yang menguasai perkebunan karet, tebu, kopi dan teh yang sangat luas.
Karena luasnya perkebunan tersebut, perusahaan memerlukan banyak karyawan untuk dipekerjakan, sehingga PW Hofland mendatangkan orang-orang dari daerah Subang Kuningan untuk menjadi karyawannya, karena penduduk Subang
pada saat itu belum banyak seperti sekarang. Para pendatang tersebut kemudian membuat suatu perkampungan disekitar pabrik yang disebut Babakan atau Kampung Subang, sesuai dengan asal tempat tinggal mereka.
Dari cerita rakyat versi lain, ada juga yang mengatakan bahwa Kota Subang berasal dari kata ”suweng”. Suweng merupakan perhiasan yang dipasang di telinga. Subang juga berasal dari kata ”Kubang”. Menurut folklor bahwa di daerah Subang, tepatnya di Rawabadak terdapat kubangan atau rawa tempat mandi badak. Kalaupun benar di Subang terdapat hewan badak, mungkin hewan ini hidup pada masa Subang Purba. Asumsi dari kedua kata ”suweng” dan ”kubang” merupakan perbedaan lafal kata yang diakibatkan karena kurang jelasnya dalam mendengar kata suweng dan kubang, atau tidak biasa mengucapkan kedua kata tersebut.
- Letak Geografis
Kabupaten Subang yang terbentang dari bagian utara Jawa Barat dengan titik koordinat tepatnya terletak pada 107 derajat 31’ – 107’ 54’ Bujur Timur dan 6’ 11’ – 49’ Lintang Selatan, memiliki luas wilayah sebesar 205.166,95 hektar atau 6,34 persen luas Propinsi Jawa Barat, sedangkan range ketinggian tempat antara 0 – 1500 meter dpl (diatas permukaan laut).
Berdasarkan dari batas wilayah administrasi maka kabupaten Subang memiliki cakupan batas wilayah :
- Wilayah bagian Utara berbatas langsung dengan Laut Jawa;
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Pemerintah kabupaten Purwakarta dan Karawang;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat;
- Sebelah Timur Kabupaten Subang berbatasan dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang.
- Letak Topografis
Secara alamiah, Kabupaten Subang terbagi atas tiga bagian wilayah, yaitu :
- Daerah yang memiliki Pegunungan dengan ketinggian 500 meter sampai 1.500 meter dpl (diatas permukaan laut) dengan luas 41.035,09 hektar atau 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang yang meliputi Kecamatan Sagalaherang, Kecamatan Serangpanjang, Kecamatan Ciater, Kecamatan Jalancagak, Kecamatan cisalak dan sebagian besar Kecamatan Tanjungsiang;
- Daerah yang bergelombang atau berbukit dengan ketinggian antara 50-500 meter dpl (diatas permukaan laut) dengan luas wilayah sekitar 71.502,16 hektar atau 34,85 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang yang wilayahnya meliputi Kecamatan Cijambe, Kecamatan Subang, Kecamatan Cibogo, Kecamatan Dawuan, Kecamatan Kalijati, Kecamatan Cipeundeuy dan sebagian besar Kecamatan Purwadadi dan Cikaum;
- Daerah rendah dengan rata-rata ketinggian antara 0-50 meter dpl (diatas permukaan laut) dengan luas wilayah 92.639,7 hektar atau 45,15 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayahnya mencakup wilayah Pantura (pantai utara) yaitu Kecamatan Pagaden, Kecamatan Pagaden Barat, Kecamatan Binong, Kecamatan Tambakdahan, Kecamatan Cipunagara, Kecamatan Compreng, Kecamatan Ciasem, Kecamatan Sukasari, Kecamatan Pusakanagara, Kecamatan Pusakajaya, Kecamatan Pamanukan, Kecamatan Legonkulon, Kecamatan Blanakan, Kecamatan Patokbeusi dan sebagian kecil Kecamatan Cikaum dan Purwadadi;
- Apabila dilihat dari tingkat kemiringan lahan maka tercatat bahwa 80.80 persen wilayah Kabupaten Subang memiliki tingkat kemiringan 0˚ – 17˚, 10,64 persen dengan tingkat kemiringan 18˚ – 45˚, sedangkan sisanya (8,56 persen) memiliki kemiringan diatas 45˚.
- Sejarah Singkat Kabupaten Subang
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda
Pada saat Pemerintah Kolonial Belanda menguasai wilayah Subang, yakni pada tahun 1812. Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P & T Lands (Pamanoekan end Tjiasemlanden) yang dikelola oleh pihak swasta eropa dengan mempekerjakan bangsa pribumi yang datang dari luar wilayah Subang dengan membawa kultur yang berbeda, subang menjadi tujuan urbanisasi dari dulu sampai sekarang
Dalam buku sejarah Subang terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang tercatat penentuan hari jadi Subang tersebut merujuk pada sebuah rapat yang digelar pada tanggal 5 April 1948 di daerah Cimanggu, Desa Cimenteng, Kecamatan Cijambe. Rapat tersebut menetapkan pembagian wilayah dan kepala pemerintahan darurat dimana ketika itu keadaan negara tengah genting karena Agresi Militer Belanda I.
Pembentukan kabupaten Subang berdasarkan undang-undang no. 4 tahun 1968, yaitu:
menerangkan tentang pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, dengan batas-batasnya.
Berdasarkan dari batas wilayah administrasi maka kabupaten Subang memiliki cakupan batas wilayah :
- Wilayah bagian Utara berbatas langsung dengan Laut Jawa;
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Pemerintah kabupaten Purwakarta dan Karawang;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat;
- Sebelah Timur Kabupaten Subang berbatasan dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007, Wilayah Kabupaten Subang terbagi menjadi 30 kecamatan, yang dibagi lagi menjadi 245 desa dan 8 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Subang.
- Gambaran Umum Kebudayaan
Corak utama yang dominan di Kabupaten Subang adalah Sunda, bahasa yang digunakan bahasa sunda dan Sunda pantura , Kabupaten Subang memiliki tiga klaster yang berbeda dengan masing-masing ekspresi kebudayaan yang khas, diantaranya:
- Zona budaya pegunungan (selatan)
Kesenian helaran Sisingaan, Doger, Toleat, jaiponga degung, dan Calung, Kuda renggong dengan upacara adat Ngaruat jagat, Mapag cai, Ampih pare, mapag Sri.
- Zona budaya pedataran (tengah)
Kesenian helaran Sisingaan, Doger, Toleat, jaiongan, degung, calung. dengan upacara adat Ngaruat jagat, Mapag cai, Ampih pare, mapag Sri.
- Zona utara (Pantura)
Kesenian helaran Sisingaan, Doger, Toleat, jaiongan, tarling, sintren, adem ayem. dengan upacara adat, Nadran, Pesta laut.Permainan Egrang, Kelom batok, Sonlah, Bedil jepret, Gampar, Gangsing dan lain-lain.
Melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), dan Sumber Daya Kultural (SDK) di Kabupaten Subang, berdampak terhadap perkembangan produk-produk budaya masyarakatnya, Produktifitas masyarakat Subang dalam kegiatan kesehariannya, melahirkan kreatifitas dan inovasi yang menjadi sebuah ekspresi produk budaya masyarakatnya.
Pada perjalanan rentang proses bidaya masyarakat Subang, Kabupaten Subang dijuluki dalam ranah budaya sebagai “Lumbung Seninya Jawa Barat. Selain itu pula produk kebudayaan masyarakart pendukung kebudayaan di Kabupaten Subang, terutama dalam bidang kesenian, melahirkan produk-produk kesenian tipikal dan menjadi ikon di daerahnya ataupun di luar daerahnya. Beberapa yang mejadi ikon kesenian di Kabupaten Subang, diantaranya adalah; Kesenian Doger, Kesenian Sisingaan, Kesenian Genjring Bonyok dan Kesenian Toleat.
Adanya pengaruh dari produk-produk kebudayaan di luar wilayah Kabupaten Subang, melahirkan asimilasi dan akulturasi budaya terhadap produk-produk kebudayaaan lokal. Produk budaya yang datang dari wilayah di luar Kabupaten Subang, dibawa oleh kaum urban, menambah kekayaan dan keragaman budaya masyarakat Subang, Adapun pengaruh-pengaruh produk budaya di luar wilayah Kabupaten subang, yang kemudian menjadi bagian kekayaan khasanah budaya di wilayah ini, diantaranya adalah :
Bahasa Sunda Pantura, Tanjidor, Jaipongan, Tarling, Topeng, Degung, Kuda Renggong, Adem ayem, Tembang Sunda, Sintren, Tayub, Banjet, Gembyung, Penca Silat, Calung, Degung dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dalam buku data Kebudayaan 2014, tercatat 18 jenis kesenian yang tersebar di wilayah Subang.
BAB II
RAGAM SENI PERTUNJUKAN
- Jenis Jenis Seni PetunjukanJenis Petunjukan Tradisional
- Sisingaan
Kesenian Sisingaan adalah sebuah bentuk kreatifitas budaya masyarakat kabupaten Subang, yang mendukung dalam keaktipan masyarakatnya. Sebuah kreatifitas dimasyarakat tidak akan lepas dari perubahan secara alamiah dengan sendirinya, seiring perubahan jaman.
Menurut Abah Salim pengrajin patung singa ( wawancara, 2011), awal mula keberadaan kesenian sisingaan di Kabupaten Subang berawal dari kegiatan ritual masyarakat yang akan menyunat anak laki-laki, dengan cara dihibur terlebih dahulu, diarak keliling kampung menggunakan kursi yang dihias atau disebut jampana. Jampana diusung oleh empat orang dewasa, sedangkan calon pengantin sunat duduk diatas kursi yang telah dihias (jampana), musik pengiring dalam arak-arakan tersebut menggunakan alat musik seadanya seperti , Dog-dog, kendang, kempul, kecrek, dengan pola tabuh penca silat, dan improvisasi bersipat spontan (tidak terencana). Gerak tari pengusung jampana tersebut belum ada gerak baku, masih bersipat helaran atau berjalan secara biasa, kostum yang digunakan seadanya.
Berdasarkan perubahan waktu dan jaman, seiring pergeseran fungsi dan bentuk kreatifita masyarakat, jampana mengalami perubahan pada bentuk patung singa bongsang, yaitu patung singa yang terbuat dari rangkaian bambu (Carangka) yang dibungkus karung goni, kepala dan kakinya terbuat dari Kayu Randu, rambutnya terbuat dari tali rapiya, matanya tebuat dari tutup botol minuman, dingusung oleh empat orang pengusung.
Menurut hasil Saresehan Kesenian Sisingaan yang diselenggarakan pada tahun 1982, mengahasil suatu keputusan bersama untuk menyamakan fersepsi dalam struktur garapan Kesenian Sisingaan, yang tertulis dalam buku tentang Perkembangan kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang, oleh H. Armin Asdi (Sisingaan Subang, 1982).
Sisingaan adalah simbol bentuk perjuangan masyarakat Kabupaten Subang terhadap penguasa, atau penjajah dari ketertindasan, pada waktu kekuasaan Kerajaan Inggris. Patung singa melambangkan l penguasa kaum penguasa, yaitu lambang Negara Kerajaan Inggris, anak sunat yang menunggang patung singa melambangkan generasi penerus bangsa, payung simbol pelindung geneasi penerus bangsa, pengusung melambangkan masyarakatpribumi yang tertindas, dengan struktur pola tabuh dan gerak sebagai berikut :
- Struktur gerak
Terdiri dari: Kuda-kuda, tajongan, mincid leutik, ngangkat sisingan, ibing kidung, golempang. ewag, mincid badag. mincid solor, ibing gondang. jaipongan, jeblagan, mincid kiser, kreatifitas atraksi, dan panutup.
- Struktur musik karawitan
Terdiri dari: Overture, Arang-arang Padungdung, Jeblagan, Mincid leutik (lagu Gurudugan), Kidung, Golempang, Ewag (Lagu kangsreng), Mincid badag ( gurudugan), Pola tepak kendang solor, Pola tabuh lagu gondang, Pola tabuh jaipongan, Torondol, Waledan, dan Gending penutup
- Waditra (alat musik)
Terdiri dari: Kendang sangkeh indung, Kendang sangkeh kemprang, Kulanter 2 buah, Ketuk, Kecrek, Goong kempul, Tarompet, dan Vokal kawih (Sinden)
- Kostum (busana)
Terdiri dari: Pangsi, Kampret, Iket kepala, Sepatu olah raga, dan Kain sabuk pinggang.
- Properti
Terdiri dari: Payung agung 2, Patung Singa 2, dan 4 buah tongkat pengusung.
- Fungsi Sajian
Bentuk Kesenian Sisingaan, berawal dari bentuk ritual masyarakat dalam rangka menjelang sehari sebelum syukuran sunatan dilaksanakan, yang bertujuan supaya segala rencana perhajatan yang akan dilaksanakan keesokan harinya dalam keadaan lancar.
Bentuk struktur sajian Kesenian Sisingaan, diawali dengan sajian kegiatan ritual sebelum arak-arakan dimulai, yang dirangkai dengan acara hiburan, calon penganten sunat menunggang sisingaan diarak keliling kampung diiringi musik dan tarian yang sudah dikemas dalam satu garapan.
Dalam konteks petunjukannya, Kesenian Sisingaan sebuah bentuk jenis kesenian helaran yang dipergelarkan dijalanan, mengalami perubahan fungsi berdasakan format kebutuhannya, pada masa sekarang Kesenian Sisingaan dapat dipergelarkan di atas panggung ( arena pentas ).
Bedasarkan pergeseran fungsi sosial di masyarakat, fungsi sajian pergelaran Kesenian Sisingaan antara lain :
- Hajat sunatan;
- Prosesi penyambutan tamu;
- Prosesi peresmian;
- Hiburan di atas panggung, maupun di jalan;
- Apresiasi pendidikan.
Kesenian Sisingaan berawal dari kegiatan ritual masyarakat Kabupaten Subang dalam keatifan kesehariannya dan didukung oleh masyarakatnya, kemudian berkembang menjadi seni hiburan. Menurut Koendjoroningrat dalam Teori Antropologi Budaya : Bentuk kreatifitas budaya yang lahir dan muncul didaerah setempat serta berkembang sampai ke luar wilayah daerah setempat, yang mendukung masyarakatnya, termasuk sebuah evolusi budaya.
Kursi yang dihias atau Jampana sebagai objek property mengalami perubahan dan, baik dari fungsi, struktur pertunjukan bahkan kostum yag digunakan . Dilihat dari segi fungsi kesenian sisingaan berawal sebagai kesenian helaran dan berkembang di masyarkat, berfungsi sebagai bentuk sajian hiburan diarena panggung, sedangkan pada masa sekarang kesenian Sisingaan bukan hanya berfungsi sebagai hiburan dalam acara hajatan khitanan saja, tetapi sering dipentaskan dalam acara-acara khusus.
Perubahan dan perkembangan Kesenian sisingaan ini menjadi identitas produk budaya masyarakat Kabupaten Subang, sekaligus menjadi icon daerah Kabupaten Subang.
- Gembyung
Gembyung berasal dari dua suku kata yaitu Gem dan Yung. Gem berasal dari kata Ageman yang artinya ajaran, pedoman, atau paham yang diikuti oleh manusia, dan suku kata Byung berasal dari kata Kabiruyungan yang artinya kepastian untuk dilaksanakan. Gembyung memiliki nilai-nilai keteladanan untuk dijadikan pedoman hidup. Gembyung pertama kali berkembang pada masa penyebaran Islam. Pada saat itu Gembyung dimainkan oleh Para santri pesantren dengan bimbingan sepuh-sepuh.
Gembyung merupakan kesenian tradisional yang menggunakan genjring sebagai alat utama. Gembyung pada saat pagelaran selalu menampilkan alunan musik yang sangat tradisional dan musik dilantunkan juga mengandung unsur yang sangat sacral. Hal tersebut dipegang teguh oleh para pemain Gembyung untuk menjaga keaslian seni tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya.
Gembyung terdiri dari beberapa unsur yaitu Waditra, Pangrawit, Pemain alat musik, Juru kawih, Penari dan Busana.
-
-
- Waditra
-
Beberapa Waditra atau alat musik yang dipakai dalam seni Gembyung antara lain :
- Genjring Kemprang
- Genjring Kempring
- Genjring Gembrung
- Gendang
- Kecrek
- Nayaga atau pemain alat musik
Nayaga terdiri dari lima orang, pada saat pegelaran biasanya nayaga mengambil posisi duduk atau sila
- Juru kawih
Juru kawih Gembyung biasanya laki-laki atau satu orang dari yang memainkan Genjring. Sehingga selain menggunakan Genjring juru kawih juga melantunkan lagu. Lagu yang dilantunkan juru kawih biasanya ada lagu yang berbahasa sunda buhun, hal tersebut dapat didengar dari syair lagu yang kurang dipahami. Beberapa buah lagu buhun yang dinyanyikan oleh juru kawih antara lain Ya Bismillah, Raja Siray, Siuh, Ricik Manik, Engko, dan Geboy.
- Penari
Penari gembyung biasanya seorang laki-laki atau bisa juga dari penonton yang sangat menyukai seni Gembyung. Sehingga antara penari dan penonton bisa menari dengan bersama-sama. Tarian gembyung mempunyai ke khasan antara lain tari dilakukan secara pelan sesuai irama Gembyung, dan penari biasanya sangat menikmati tariannya. Ada juga penari yang kerasukan dengan mata terpejam dan saat alunan musik berhenti penari baru tersadar.
- Busana
Busana yang dipakai oleh pemain Gembyung biasanya menggunakan pakaian tradisional sunda seperti iket, kampret dan celana pangsi. Sedangkan busana penari selain menggunakan pakaian tersebut juga memakai selendang.
- Doger Subang
Kesenian Ketuk tilu merupakan salah satu kesenian yang muncul dan berkembang di Jawa Barat, tepatnya di daerah pryangan, Karawang, Sumedang dan Subang. Ciri khas dari kesenian Ketuk tilu yaitu dengan adanya unsur gerak dan iringan pola tabuh pencak silat, yang menjadi gendre kesenian tari rakyat.dimasyarakat Jawa Barat.
Dahulu Keberadaan Kesenian Ketuk Tilu dimasyarakat, dengan Kesenian tayub dan ibing keurseus jelas sangat bertolak belakang, kerena pengaruh nilai kultur peodalisme yang masih kental dimasyarakat pada waktu itu. Produk keatifitas yang berasal dari kalangan menak atau bangsawan tidak boleh dipelajari atau dipentaskan pada masyarakat biasa (wawancara abdi dalem kanoman, 1992), diantanya Tari Badaya ,karena Tari Badaya merupakan tarian yang dianggap sakral dilingkungan keraton, hanya kaum bangsawan dan para menak yang bisa menikmatinya, penyajiannya hanya untuk acara khusus dan penyambutan tamu yang dianggap terhormat.
Seiring perkembangan jaman dan pergeseran nilai budaya dimasyarakat, munculah sebuah kreatifitas budaya dari lingkungan masyarakat dengan gaya peniruan pola gerak ibing keurseur,( Tari Badaya ), produk kreatifitas masyarakat tersebut yaitu Doger
Kesenian Doger, yaitu salah satu bentuk karya kreatifitas budaya masyarakat Kabupaten Subang, yang muncul dari lingkungan masyarakat dan bermanfaat dilingkungan masyarakat sebagai media hiburan, pada waktu penjajahan Belanda, ketika daerah Subang dijadikan area perkebunan, teh, kopi, kakau, karet, dan rosela, oleh perusahaan Belanda, yaitu P and T land yang sekarang menjadi PTP Nusantara.
Pada waktu daerah Subang dikuasai Perkebunan P And T Land, Kesenian Doger menjadi media hiburan bagi para pekerja perkebunan (kontrak), tampilan Kesenian Doger secara rutin dipergelarkan di daerah perkebunan setelah gajihan para pegawai perkebunan (kontrak).
Menurut bapak Jahim tokoh kesenian doger (wawancara, 1999), dalam wawancaranya menerangkan kesenian doger bahwa:
Doger dalam pengertiannya berasal dari kata Dog dan Ger, Dog artinya dog-dog,yaitu waditra pengiring Kesenian Reog yang terbuat dari bahan kayu pohon kelapa dan membrannya dari kulit kambing, dan Ger bentuk kata akronim Beger, artinya orang yang sedang kasmaran.
Melihat pengertian akronim kata diatas, bahwa kesenian doger merupakan kesenian rakyat yang dijadikan media hiburan masyarakat, terutama bagi orang-orang yang sedang kasmaran, bentuk sajiannya, merupakan tarian pergaulan yang dibawakan oleh penari wanita (Ronggeng), diiringi oleh waditra gamelan yang dimainkan oleh beberapa orang nayaga berdasarkan fungsinya, dan dipimpin oleh seoarang pimpinan yang disebut lurah kongsi.
Materi pola gerak tari dan pola tabuh iringan kesenian doger bersumber atau berakar dari seni pecak silat, seni tari keurseus dan seni ketuk tilu, yang terbentuk atas dukungan dan kreatifitas masyarakat daerah Subang dalam struktur keutuhan sajian kesenian doger
Kesenian Doger, adalah Kesenian rakyat yang berkembang di daerah wilayah perkebunan Kabupaten Subang, sekaligus menjadikan lokal identitas produk budaya masyarakat Kabupaten Subang.
- Fungsi Sajian
Namun seiring dengan perkembangan jaman, kesenian Doger tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat dan mengalami tahapan perubahan fungsi dalam sajiannya, seperti di Kabupaten Subang, pada awalnya kesenian Doger sebagai media hiburan masyarakat di wilayah perkebunan daerah Subang, dan dipergelarkan bukan hanya diatas panggung, tapi juga dipelataran, secara berkeliling dari kampung ke kampung (ngamen)
Pergeseran fungsi kesenian Doger pada preode sekarang di Kabupaten Subang dipergelarkan dalam acara-acara khusus, yaitu sebagai hiburan apresiasi dan materi pembelajaran di lembaga pendidikan sebagai labolaturium konservasi budaya, yang sesuai dengan kopetensinya, di lingkungan masyarakat Kabupaten Subang, maupun di luar wilayah Kabupaten Subang.
- Waditra
Waditra adalah alat musik tradisional karawitan sunda, waditra dan vocal kawih yang berfungsi sebagai pengiring dalam tarian doger adalah:
- 2 dog-dog kecil
- 3 genjring
- 1 terbang besar
- 1 set kendang
- 1 set gong, kempul
- Kecrek
- Tarompet
- Sinden
- Lagu-lagu yang disajikan
- Kembang Gadung
- Renggong Bandung
- Badaya
- Gaplek
- Awi ngarambat
- Kuntul biru
- Buah kawung
- Dan lagu ketuk tilu lainnya
- Kostum
Seluruh nayaga dalam pertunjukan kedepan, akan memakai baju, celana pangsi berwarna hitam dan iket kepala. Untuk sinden memakai baju kebaya, sanggul, make up, dan aksesoris lainnya.
Penari wanita masing-masing akan menggunakan kebaya biasa model lawas, samping dengan posisi dibawah lutut, sampur, dan rambut di ikat keatas yang mirip seperti sanggul. Untuk penari pria menggunakan pangsi hitam, pakaian dalam menggunakan kaos oblong, dan iket kepala dengan jenis barangbang semplak.
Kostum ini, merupakan keaslian dari pertunjukan Doger, karena menurut penjelasan salah satu sumber seluruhnya gambaran kesederhanaan.
- Genjring Bonyok
Genjring bonyok adalah jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang yang mem punyai alat musik utama bedug dan genjring. kesenian tersebut mulai lahir dan berkembang di Kampung Bonyok merupakan kesenian yang trispirasi dari kesenian Genjring Rudat.
Genjring Bonyok mulai lahir sebelum kemerdekaan atau pada jaman perkebunan P & L Lannds. Pada waktu itu Kampung Bonyok atau wilayah Desa Pangsor dikenal daerah kontrak.selain Genjring Bonyok ada beberapa jenis kesenian yang berkembang antara lain Kendang Penca,Ketuk Tilu, dan Wayang Golek. Kesenian tersebut berkembang sesuai dengan keinginan masyarakat yang membutuhkan hiburan.
Alat musik (Waditra)yang di gunakan dalam perkembanggannya hanyamenggunakan satu buah Bedug,tiga buah genjring. kemudian Genjring Bonyok mengalami perkembangan dengan menambahkan atau memadukan alat musikdari kesenianyang sedang berkembang pada waktu itu.
Seniman yang mempunyai peran penting dalam mendirikan dan menggembangkan Genjring Bonyok yaitu Talan dan Sutarja mereka membuat kreasi dalam setiap pertunjukan,sehinga Genjring Bonyokdapat dikenal oleh masyarakat.beberapa priode perkembangan Genjring Bonyok:
- Tahun 1967 Genjring Bonyok baru mempunyai lima orng personil (nayaga) yaitu satu orang penabuh bedug dan empat penabuh genjring.
- Taun 1969 mulai memasukan terompet dan nayaga bertambah menjadi enam orang
- Tahun 1982 Genjring Bonyok memasukan jenis alat music seperti gendang ,kulanter,goong besar,goong kecil,dua buah kenong dan kecrek
- Tahun 1987 Genjring Bonyok mulai menggunakan sinden atau juru kawih dan lagu yang dilantunkannyayaitu lagu ketuk tilu
Genjring Bonyok sudah banyak melakukan pertunjukan, hal tersebut dapatdilihat dalam beberapa even terdahulu antara lain pada tahun 1971 mengadakan pagelaran di Gedung Rumentang Siang Bandung, tahun1977 mengikuti Festival Genjring Bonyok se-Jawa Barat yang di ikuti oleh 24 grup,tahun 1978 mengadakan pagelaran di Gor Saparua Bandung, tahun 1979 pagelaran di gedung Gubernur yang diikuti oleh tiga grup dari tiga kabupaten, tahun 1980 pegelaran pada acara HUT Kabupaten Subang.
Dengan demikian pagelaran Genjring Bonyok tidak hanya sebagai alat helaran pada acara hajat, akan tetapi Genjring Bonyok dapat di pergelarkandi atas panggung. dan Genjring Bonyok jugabisa memakai penaridgan kreografik yang baik.
Maka fungsi kesenian Genjring Bonyok sangat beraneka ragam antara lain mengadakan pagelaran pada acara Hajatan dengan cara melakukan helaran bersama dengan kesenian yang lain missal dengan kesenian Sisingaan. Mengadakan pagelaran pada acara-acara yang dianggap penting atau acara kedinasan.
Beberapa unsur yang penting yang sangat menunjang pada acara Genjring Bonyok yaitu waditra, nayaga, juru kawih, penari, busana.
- Waditra (alat musik)
Alat musik yang digunakan yaitu:
- Satu buah bedug, berfungsi untuk mengatur ketukan dipukul dengan cara-cara tertentu untuk membuat bunyi yang enak didengar.
- Tiga buah genjring, berfungsi untuk membuat irama yang bersautan dan mengimbangi alunan alat musik lain.
- Satu buah gendang, berfungsi untuk mengatur irama dan memberi tekanan musik
- Satu buah kulanter, berfungsi mengikuti irama
- Satu buah goong besar, berfungsi untuk menutup akhir irama
- Satu buah goong kecil, berfungsi untuk mengisi irama
- Satu buah terompet, berfungsi untuk membawakan melodi
- Dua buah kenong, berfungsi untuk mengimbangi irama
- Satu buah kecrek, berfungsi untuk mempertegas dan mengatur irama
1.4.2. Nayaga (penabuh alat musik)
Sinden duduk paling depan, dan diikuti peniup terompet yang sejajar dengan penabuh gendang dan penabuh kecrek. Baris selanjutnya penabuh genjring dan penabuh ketuk, dan dibelakangnya penabuh bedug dan penabuh goong. Kalau memakai penari biasanya berada didepan sinden. Pada saat helaran Genjring Bonyok, biasanya bersamaan dengan kesenian lain misalnya kesenian sisingaan. Genjring Bonyok berada diposisi belakang setelah kesenian sisingaan, dengan urutan posisi personel seperti posisi diatas panggung.
1.4.3. Juru Kawih (Sinden)
Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sinden dalam pagelaran adalah lagu-lagu ketuk tilu seperti Gotrok, Kangsreng, Awi Ngarambat, Buah Kawung, dan Torondol.
1.4.4. Penari
Penari Genjring Bonyok pada saat tertentu memakai para penari khusus yang seseuai dengan koreografi, sedangkan saat mengadakan helaran para petani terdiri dari masyarakat yang mengikuti menari secara spontanitas memeriahkan helaran.
1.4.5. Busana
Busana yang dipakai oleh personil Genjring Bonyok yaitu :
- Nayaga memakai baju kampret, celana pangsi, iket (barangbang semplak, parengkos nangka), selendang (sarung).
- Juru kawih (Sinden), memakai kebaya, selendang, sanggul, dan hiasan dari bunga melati.
- Penari, penari laki-laki memakai baju kampret, celana pangsi, iket dan selendang. Penari perempuan memakai kebaya, selendang, dan sanggul.
- Tayub Kosar
Kesenian tayuban merupakan salah satu kesenian yang berkembang di Jawa Barat, tepatnya di daerah Cirebon, Sumedang dan Subang. Ciri khas dari kesenian tayuban yaitu dengan adanya penari wanita (Ronggeng), dan baksa, dengan membawakan pola ibing tari keurseus.
Pada awalnya kesenian tayuban berasal dari kalangan menak atau bangsawan, kemudian kesenian tayuban yang berada di wilayah keraton ada diwilayah Cirebon dan Sumedang. Kesenian tayuban yang berada di kalangan menak dalam penyajiannya untuk acara khusus dan penyambutan tamu yang dianggap terhormat.
Seiring perkembangan jaman dan pergeseran nilai budaya dimasyarakat, tayuban yang merupakan sebuah bentuk kesenian tari pergaulan berpasangan antara pria dan wanita kalangan menak yang berada diwilayah Cirebon dan Sunedang, tumbuh dan berkembang ke wilayah Priyangan, sampai ke daerah Subang.
Pada masa pendudukan Pemerintahan Hindia Belanda terjadi pergeseran nilai, tayub dijadikan media hiburan baik oleh para petinggi Belanda maupun oleh kaum bangsawan dan priyayi.
Daerah Subang merupakan daerah Perkebunan P And T Land, yaitu perusahaan perkebunan peninggalan kekuasaan pemeintah Hindia Belanda, sekarang menjadi PTP Nusantara, dan para pekerjanya merupakan pendatang dari luar wilayah daerah Subang, diantaranya Cirebon dan Sumedang yang cenderung mempunyai nilai culture keraton ( menak bangsawan ) yang masih kental, maka terjadilah aculturasi buadaya pendatang dan budaya pribumi, diantaranya kesenian tayub yang berada di Kampung Kosar Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang.
Menurut Anis Sujana (2002 : 1) dalam buku Tayub Kalangan Menak Priangan bahwa:
Tayuban dalam pengertian umum menunjuk kepada jenis kesenian tradisional yang dilihat dari segi bentuk dan teknis penyajiannya merupakan penyajian tarian-tarian yang diiringi musik gamelan. Penyajian tarian-tarian maksudnya penyajian tari yang dibawakan oleh seorang diri, berpasangan antara pria dan wanita, menari secara bersama-sama, sedangkan musik gamelan dan vokal, sebagai seperangkat ensambel gamelan, termasuk di dalamnya sinden. Dalam pengertian penyajian ini berlangsung, penonton bisa tampil sebagai penari dan selain itu juga penari menari dengan kehendak hati.
Kesenian TayubKosar, adalah Kesenian tayuban yang berkembang di kampung kosar Desa Karanghegar Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang, sekaligus menjadikan lokal identitas produk budaya masyarakat Kabupaten Subang, diantaranya grup kesenian tayuban Nanjung Jaya Encling, salah satu grup kesenian tayuban yang masih eksis dalam kegiatannya untuk mempertahankan dan melestarikan kesenian tayub.
- Fungsi Sajian
Namun seiring dengan perkembangan jaman, kesenian tayuban tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat terus mengalami perubahan fungsi dan sajiannya, seperti di Kabupaten Subang, pada awalnya kesenian tayub berfungsi sebagai upacara ritual kesuburuan pertanian sebelum tahun 1990-an, seperti yang diungkapkan oleh Caturwati (2006 : 14) :
Pada awal kelahirannya, tayub merupakan ritual untuk persembahan demi kesuburan pertanian. Penyajian tayub diyakini memiliki kekuatan magis dan berpengaruh terhadap upacara persembahan itu. Melalui upacara bersih desa, aparat desa mengajak warganya untuk melakukan tarian di sawah-sawah dengan harapan tanaman menjadi subur dan terhindar dari hama dan marabahaya. Pergeseran fungsi kesenian tayuban pada preode sekarang di lingkungan masyarakat kampung Kosar Desa Karang Hegar Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang adalah sebagai sarana hiburan, yang bisaanya disajikan pada acara hajatan pernikahan dan khitanan.
- Bentuk Pertunjukan
Dalam bentuk sajiannya kesenian Tayuban dipergelarkan di atas panggung terbuka, dengan struktur sajian sebagai berikut:
- Bubuka (tatalu ).
Membawakan lagu yang bernuansa ritual, yaitu Kembang Gadung atau Kidung yang dipercaya agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam rangkaian acara tayuban.
- Soderan.
- Menari bersama
Adapun gerak tari yang dilakukan oleh seluruh penari yang terlibat, seperti ronggeng dan penari utama. Yaitu:
- Soderan,
- Karatagan,
- Bendrongan,
- Lagu-lagu ketuk tilu,
- Jaipongan.
- Rias dan Kostum
Untuk rias dan busana yang digunakan oleh ronggeng pun kini sudah ada perkembangan. Rias dan busana ronggeng pada zaman dahulu yang terkesan sangat sederhana, kini seiring dengan berkembangnya zaman rias dan busana tersebut sudah semakin dikreasikan agar terlihat lebih modern.
1.6. Topeng Jati
Keberadaan kesenian topeng di Jawa Barat tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam semasa Cirebon dipimpin Sunan Gunung Jati, Nyimas Gandasari soudara Sunan Gunung Jati berperan sebagai penari topeng untuk menaklukan Pangeran Welang dari Karawang untuk masuk Islam.
Kesenian topeng berasal dari kebudayaan Hindu dan Budha masa kerajaan Majapahit dalam, yang dibawa oleh penyebar agama Islam (wali), dengan cara mempergelarkan Kesenian Topeng Panji, dalam sajian ceritanya disisipkan nilai-nilai Islam.
Sebutan Topeng Menor ada kaitannya dengan tradisi lingkungan seniman Cirebon, topeng adalah kebiasaan yang umum untuk menunjukan profesi seseorang, menoradalah nama lain Carini, seorang dalang topeng dari keturunan masyarakat Cirebon, yang tinggal di dusun Babakan Bandung Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, sebutan menor diberikan karena anak satu-satunya perempuan dari empat bersoudara
Topeng Jati yang berasal dari Cirebon mempunyai beberapa topeng dengan karakter masing-masing, yaitu:
- Topeng Panji.
- Topeng Samba
- Rumyang
- Topeng Tumenggung
- Topeng Kelana
- Topeng Buta
Topeng Menor adalah kesenian topeng pada masanya mempunyai penari topeng cantik, suara merdu, dan pandai menari, padai menari topeng dengan berbagai karakter.
Kesenian Topeng Jati meupakan hasil difusi dari suatu individu atau masyarakat, karena kesenian asli darinya berasal dari luar Subang, yaitu dari wilayah Cirebon.
1.6.1. Unsur Pertunjukan
1.6.1.1. Topeng
Topeng merupakan unsur pertama yang menjadi icon dalam kesenian ini, topeng terbuat dari kayu kembang, kayu buah.
1.6.1.2. Waditra (Alat Musik) :
- Kendang
- Kulanter
- Goong
- Suling/Bangsing
- Ketuk
- Saron
- Gambang
- Kecrek
1.6.1.3. . Nayaga
Nayaga atau pangrawit dalam kesenian Topeng Jati berjumlah 12 orang , sesuai dengan fungsinya.
1.6.1.4. Dalang
Dalang berperan untuk menirukan berbagai karakter topeng yang dipakai dalam tarian topeng
1.6.1.5. Sinden
Sinden adalah penyani wanita yang berperan membawakan kawih (vokal) saat penari topeng istirahat, atau berganti kostum dan topeng.
Kawih vokal yang dibawakan.:
- Ketuk Tilu
- Dermayonan
- Kiser Saidah
1.6.1.6. Penari Topeng
Penari topeng terdiri dari dua orang, yaitu perempuan dan laki-laki, berperan memainkan topeng karakter :
- Gaya topeng Panji
- Gaya topeng Samba
- Gaya topeng Rumyang
- Gaya topeng Tumenggungan
- Gaya topeng Kelana
- Busana
Busana yang dipergunakan penari topeng jati antara lain :
- Sobrah dipake di kepala
- Baju tari yang dihias mute
- Celana yang dihias mute
- Kain sinjang lancer
- Baju tawa
- Iket sunda
- Struktur penyajian Topeng Jati
1.6.2.1. Bubuka
Memulai pagelaran dengan memainkan, satu sampai tiga lagu instrument
1.6.2.2. Ibing
Mulai mempergelarkan tarian topeng, mulai tokoh Panji, Rumyang, Samba, Tumenggung, kelana, dan Rahwana.
1.6.2.3. Penutup ditutup lagu akhir, yaitu lagu Bale Bandung.
Kesenian Topeng jati adalah bentuk mendia penyebaran agama Islam, atau syi’ar agama Islam dari wilayah Cirebon ke wilayah Subang dan Karawang dimasa Sunan Gunung Jati, Oleh Nyimas Gandasari.
Asal mula Kesenian Topeng Jati dari Cirebon, dan Subang sebagai tujuannya, sambil mempergelarkan kesenian topeng dalam perjalanan dengan cara ngamen, dan menemukan kehidupan baru menetap di Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang.
Kesenian Topeng Jati sekarang memberikan kotribusi warna kreatifitas budaya masyarakat Kabupaten Subang, bahkan menjadi icon, topeng Jati (Topeng Menor) dari Kabupaten Subang.
- Toleat
Kesenian Toleat, di daerah Kabupaten Subang merupakan produk budaya masyarakat Subang yang notabene merupakan cerminan nilai-niai dan norma-norma sosial budaya masyarakat seni dan pendukungnya. Berbagai kekayaan karya produk budaya telah lahir dari daerah ini. Hal ini telah menjadikan Kabupaten Subang sebagai salah satu daerah yang memiliki tipikal karya seni tersendiri di Jawa Barat, tidak dapat dipungkiri hal tersebut telah memberikan kontribusi yang besar bagi kelangsungan kebudayaan di Indonesia.
Toleat merupakan permainan anak gembala didaerah pantura (pamanukan) Kabupaten Subang, yang Kemudian menempuh tahap evolusi baik itu bentuk, bahan maupun fungsinya. Terbentuknya Toleat diilhami dari empet-empetan, yaitu alat musik tiup yang dimainkan oleh anak gembala yang terbuat dari jerami padi yang telah dipanen (empet-empetan). Empet-empetan telah mengalami beberapa tahapan evolusi dan pekembagannya menjadi alat musik Toleat terbuat dari bahan congo awi ( ujung bambu ) dan awi tamiang ( bambu untuk suling ).
Toleat berfungsi sebagai “kalangenan, pintonan dan kontemporer”.
Dalam periode “kalangenan” toleat merupakan alat untuk menghibur diri, kemudian masuk kedalam periode pintonan, toleat diangkat diatas pentas menjadi sebuah sajian hiburan pada acara tertentu; acara hiburan apresiasi dimasyarakat umum maupun masyarakat akademis.
Didalam periode kontemporer, bentuk sajian alat musik toleat dapat digabungkan (kolaborasi) dengan alat musik lain baik alat musik tradisional, maupun alat musik non tradisional ( modern ).
- Wayang Golek
1.8.1. Sejarah Wayang Golek Di Indonesia
Wayang Golek merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang banyak sekali terdapat di daerah Jawa Barat, daerah penyebarannya terbentang luas dari Cirebon di sebelah Timur sampai wilayah Banten di sebelah Barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat sering dipertunjukkannya pergelaran Wayang Golek ini.
Wayang Golek Purwa dalam tulisan ini adalah pertunjukan boneka (Golek) Wayang yang cerita pokoknya bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana, Istilah Purwa mengacu pada pakem pedalangan gaya Jawa Barat dan juga Surakarta yang bersumber pada Serat Pustaka Raja Purwa R Ng. Ronggowarsito.
Beliau, berhasil mengolah cerita-cerita yang bersumber dari kebudayaan India yang dialkulturasikan dengan kebudayaan asli Indonesia, Wayang Golek Sunda adalah seni pertunjukan Tradisi yang berkembang di tanah Sunda, Jawa Barat, berbeda dengan Wayang Kulit dua dimensi, Wayang Golek adalah salah satu jenis Wayang trimatra atau tiga dimensi.
Menurut C.M Pleyte, bahwa masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal Wayang sejak tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi dalam Prasasti Batutulis.
Pada abad 16, dalam naskah Ceritera Parahyangan juga disebutkan berulang-ulang kata-kata Sang Pandawa Ring/Kuningan.
1.8.2. Susunan Pengadegan
Yang dimaksud dengan susunan pengadegan disini adalah pola cerita atau Struktur Dramatik, Alur cerita dalam pagelaran Wayang itu tidak begitu penting sehingga kemapanan pola cerita tidak akan rusak karenanya.
Secara garis besar Susunan Pengadegan itu terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.8.2.1. Karatonan
Menceritakan keadaan di keratin Negara lawan (antagonis) yang biasanya sedang menghadapi kesulitan besar.
Para Pembesar negeri itu tengah bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dari kesulitan, kemudian salah seorang yang hadir mengajukan satu cara. Sang Raja menyetujuinya, kemudian menugaskan para Pembesar untuk menyiapkan diri.
1.8.2.2. Pasebanan
Para pembesar Negara sedang mengadakan persiapan dengan bala tentaranya di Paseban.
Mereka mendapat …
Waktu dan Tempat untuk Pertunjukan
Wayang Golek Sunda dapat dipertunjukkan siang hari ataupun malam, hal ini dikarenakan pagelaran tersebut tidak menggunakan kelir seperti halnya pergelaran Wayang Kulit dari Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Tempat pertunjukan biasanya dilaksanakan dimana saja, di dalam ruang tertutup atau di tempat terbuka asal tempat tersebut mampu menampung jumlah pemain dan penontonnya.
Baik di dalam ruangan ataupun di tempat terbuka pagelaran Wayang Golek membutuhkan panggung. Panggung tersebut biasanya lebih tinggi dari pada kedudukan penonton, hal ini dimaksudkan agar para penonton tersebut dapat melihat dengan jelas jalannya pertunjukan.
Di atas panggung dipasang dua batang pohon pisang (gedebog) yang panjangnya kurang-lebih 1,5 meter sebagai area permainan atau untuk menancapkan Wayang.
Posisi kedua gedebog itu ditinggikan sekitar 80 cm dengan memakai penopang dari kayu yang telah dosediakan.
Di kanan-kiri area pertunjukan dipasang pula gedebog dengan posisi yang lebih rendah, fungsinya adalah untuk menancapkan wayang-wayang yang sedang tidak terpakai. Wayang-wayang tersebut dipasang berjajar menurut aturan.
- Kacapi Kawih
Kacapi kawih berasal dari kata kecapi dan kawih, Kawih adalah bentuk karawitan sekar (vokal) yang terikat oleh birama atau ketukan, sedangkan kecapi alat musik tradisional sunda yang terdiri dari bahan kayu dan senar (kawat logan), kawat merupakan sumber suara dan kayu sebagai penamung suara (resonator).
Kecapi berpungsi untuk mengiringi kawih atau disebut juga. Kecapi siter dengan jumlah kawat 20, biasanya dalam mengiringi kawih menggunakan satu atau dua buah kecapi, jika menggunakan dua buah kecapi, salah satu di antaranya berfungsi sebagai kecapi indung dan yang lainnya sebagai rincik. Suling pada kecapi kawih ini berfungsi sebagai lilitan lagu yang kadang-kadang tempatnya digantikan oleh rebab sesuai dengan kebutuhan lagu. Vokal atau kawih pada sajian kesenian ini disebut juru sekar atau juru kawih.
Kesenian kaecapi kawih ini biasanya dipergelarkan untuk menghibur dalam berbagai acara, diantaranya acara seremonial, maupun acara-acara hajatan dimasyarakat.
Hingga saat ini dikenal beberapa pelaku atau tokohseni kecapi kawih yang andal di jawa barat, di antaranya Mang Koko Koswara, Tatang Benyamin Koswara, Maman SWP, dll, sedangkan untuk juru kawih atau tokoh sunda diantaranya, Ida Rosida Koswara, Euis Komarih, Tati Saleh, Neneng Dinar, dll.
Kesenian kecapi kawih saat ini juga dikembangkan dan dilestarikan disekolah-sekolah seni, perguruan tinggi seni, dan dinas terkait.
- Kuda Renggong
Kuda Renggong merupakan kesenian khas Jawa Barat yang mempertunjukkan kemampuan kuda dalam beratraksi dan menari sesuai irama musik.
Kesenian ini berasal dari sebuah Dusun Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
“Diawali dari Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Sipan salah seorang seniman kuda renggong dari Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, sangat tekun dalam memelihara dan mengamati berbagai gerakan yang dilakukan kuda, seperti gerakan kepala dan kaki.
“Dari gerakan – gerakan kuda itulah terinspirasi menjadi dasar terciptanya sebuah kesenian kuda renggong atau kuda yang bisa menari, sekarang mejadi sebuah pertunjukan kesenian kuda renggong
Wilayah adminstratif Kabupaten Subang bagian selatan sebelah timur adalah Kecamatan Tanjungsiang yang berbatasan dengan Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang, secara alamiah kegiatan budaya di masyarakat tersebut mempengaruhi masyarakat dua wilayah perbatasan, dua wilayah tersebut merupakan pusat daerah akulturasi budaya, produk budaya masyarakat tersebut adalah kesenian kuda renggong, yang sekarang menyebar di kecamatan Tanjungsiang dan penyebaran kegiatannya sampai wilayah luar Tanjungsiang sampai ke wilayah Kabupaten Subang bagian utara (Pantura).
Kampung Bolang desa Cibuluh Kecamatan Tanjungsiang terdapat beberapa grup yang melestarikan kesenian kuda renggong yang bertahan dan masih dipakai oleh masyarakat dalam hiburan hajatan.
- Waditra (alat musik)
Alat musik yang digunakan yaitu:
- Trombon,
- Klarinet,
- Drum bas,
- Goong,
- Kempul,
- Snare drum,
- Kecrek ketuk.
- Juru Kawih (Sinden)
Juru kawih adalah seorang perempuan yang membawakan lagu-lagu atau sekar pada kesenian kuda, dengan lagu-lagu yang melekat di masyarakat, diantaranya lagu tradisional dan lagu non traditional:
– Lagu tradisional, diantaranya: Kangsreng, Awi Ngarambat, Buah Kawung, dll.
– Lagu non tradisional diantaranya lagu dangdutan
1.10.3. Pawang kuda
Pawang kuda adalah salah seorang memerintahkan atau mengendalikan kuda untuk menari dalam kesenian kuda renggong
1.10.4. Busana
Busana yang dipakai oleh personil Genjring Bonyok yaitu :
– Nayaga dan pawing memakai baju kampret, celana pangsi, iket (barangbang semplak, parengkos nangka),
– Juru kawih (Sinden), memakai kebaya, selendang, sanggul, dan hiasan dari bunga melati.
– Kuda memakai baju khusus, yang telah dirancang untuk pertunjukan kuda renggong
- Pantun
Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).
Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.
Seni pantun Sunda umumnya merupakan kisah yang disampaikan oleh pendongeng profesional pada zamannya yang seringkali berkelana dari desa ke desa untuk menyampaikan ceritanya kepada semua orang. Tujuan sang juru pantun bertutur adalah untuk mengajarkan agama, kepercayaan, sejarah, mitologi, moral, dan tata krama. Sepanjang abad ini, dongeng-dongeng para juru pantun lambat laun berubah menjadi cerita anak-anak. Salah satu pantun Sunda yang sangat terkenal adalah Lutung Kasarung. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1000 baris, kisah yang berasal dari abad 15 ini begitu populer hingga termasuk kisah pertama yang difilmkan di Indonesia pada 1926.
Pantun disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua merupakan sajian ritual (ruwatan). Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas permintaan penaggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun ditampilkan sama dengan cerita wayang, seperti Batara Kala, Kama Salah, atau Murwa Kala. Pertunjukan pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak disajikan sembarangan. Sifatnya yang sakral dipertahankan karena bagi masyarakat Sunda membaca dan mendengarkan pantun berisi cerita raja-raja atau leluhur mereka merupakan bentuk penghormatan tersendiri kepada nenek moyang.
Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah: penyediaan sesajen, ngukus (membakar kemenyan), mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari awal hingga akhir, dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Pertunjukan biasanya diiringi alat jusik kacapi. Awalnya, kacapi yang dipergunakan sangatlah sederhana seperti kacapi Baduy yang hanya berdawai 7 kawat. Seiring dengan pertumbuhan seni Cianjuran, kacapi kecil itu digantikan dengan kacapi gelung (tembang) dan akhirnya kacapi siter. Laras yang dimainkan mengiringi pantun biasanya adalah laras pelog dan salendro.
Sebagai kesenian yang hidup di tatar Sunda sejak zaman purba sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan, ajaran, dan petuah ki juru pantun yang terdapat dalam isi pantun adalah pembauran kedua zaman itu. Selain banyak ungkapan-ungkapan yang berasal dari budaya Islam seperti istighfar, takbir, dll., terdapat pula ungkapan khas Hindu-Budha seperti ka dewata, ka pohaci, ka para karuhun, buyut, dan lain-lain.
Harus diakui, dewasa ini, kondisi seni pantun sangat memprihatinkan. Walaupun seni pantun masih dapat bertahan sebagai seni yang adiluhung, tetap saja telah terjadi pergeseran terutama dalam fungsinya dari yang sakral menjadi profan.
- Wayang Kulit
- Pengertian
Kesenian Wayang Kulit dalah kesenian tradisional Indonesia dan berkembang di Jawa. Kata wayang berasal dari kata “Ma Hyang” yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa, ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna “bayangan”, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.
Kesenian wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi sutradara, penata musik, penata tari, penata pentas, dan sebagai narator dialog tokoh-tokoh wayang, dialog vocal dalang ada yang diiringi dengan musik gamelan (sekar dalang), ada bagian vocal dalang yang yang dilepas iringan gamelan.
Orang yang memainkan gamelan disebut nayaga, sedangkan seorang perempuan yang membawakan vocal tembang secara disebut pesinden. Seorang dalang dalam memainkan wayang kulit dibantu dua asisten yang disebut catrik, dimainkan di balik kelir atau layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum pergelaran wayang kulit mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan di jawa barat wayang kulit berkembang di daerah tengah sampai pantai utara laut jawa (pantura).
- Unsur sajian pergelaran wayang kulit
Ada beberapa aspek perlengkapan dan pungsi dalam sajian pertunjukan wayang kulit, sebagai media hiburan masyarakat diantaranya:
- Pungsi pergelaran wayang kulit
Pungsi pergelaran wayang kulit dipergelarakan :
- Sebagai media hiburan masyarakat Gedung pertunjukan
- Sebagai media hiburan masyarakat panggung hajatan di masyarakat.
- Sebagai media hiburan ruwatan
- Perlengkapan pergelaran wayang kulitSeperangkat gamelan pelog / salendroSeperangkat wayang kulitLayar kain putihLampu sorotSound sistem
- Busana (Kostum)
- Baju takwa
- Bendo
- Kain samping
- Kebaya , sanggul untuk pesinden
Di Kabupaten Subang, kesenian wayang kulit merupakan daerah penyebaran budaya dari Cirebon dan Indramayu, tumbuh dan berkembang dibagian tengah dan utara, tercatat dalam data grup kesenian subang ada beberapa data dalang dan grup kesenian wayang kulit yang masih dipakai dimasayrakat dan telah mendapatkan prestasi dalam pestival wayang kulit tingkat Jawa Barat.
- Pencak Silat
- Pengertian
Penca silat adalah suatu seni bela diri tradisional Indonesia yang memperhatikan seni keindahan gerakan dalam setiap jurusnya. Tiap-tiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas.
Seni bela diri ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya Nusantara. Meski demikian, Pencasilat juga dapat dijumpai di berbagai negara Asia, seperti di Malaysia, Brunei, Filipina, Singapura, hingga Thailand bagian selatan.
Masing-masing negara mempunyai sebutannya sendiri sesuai bahasa lokal mereka, seperti gayong dan cekak (Malaysia dan Singapura), bersilat (Thailand), dan pasilat (Filipina).
Pencak silat berasal dari dua kata, yakni ‘pencak’ dan ‘silat’. Pengertian pencak ialah gerak dasar bela diri dan terikat dengan peraturan. Sedangkan silat berarti gerak bela diri sempurna yang bersumber dari kerohanian.
Adapun pengertian pencak silat menurut seorang ahli bernama Boechori Ahmad, pencak merupakan fitrah manusia untuk membela dirinya sendiri, sedangkan silat menjadi sebuah unsur yang menghubungkan gerakan serta pikiran.
- Unsur-unsur dan Tujuan Pencak Silat
- Unsur-unsur Pencak Silat
Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam pencak silat, antara lain:
- Unsur olahraga;
- Unsur Kesenian;
- Unsur bela diri;
- Unsur pendidikan mental kerohanian;
- Unsur persaudaraan menuju persatuan.
- Tujuan Pencak Silat
Adapun tujuan dari pencak silat ialah:
- Tempat menyalurkan bakat dan minat bagi generasi yang memiliki hobi olahraga, khususnya bela diri;
- Membentuk masyarakat ‘berjiwa sehat, berpikir cerdas, berprestasi’;
- Membentuk sikap kesatria pada masyarakat dan mendidik mereka untuk berani membela kebenaran juga keadilan, disiplin yang tinggi serta tanggung jawab lahir batin;
- Mendorong dan menggerakkan masyarakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat juga manfaat olahraga pencak silat sebagai kebutuhan hidup;
- Mendidik generasi muda supaya tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan penggunaan obat terlarang.
- Fungsi Pencak Silat
- Fungsi pencak silat untuk seni
Jika dilihat dari sudut seni, dalam gerakan pencak silat terdapat keselarasan serta keseimbangan antara wirama, wirasa, dan wiraga, atau keserasian irama, penyajian teknik, dan penghayatan.
- Fungsi pencak silat untuk bela diri
Sementara jika dilihat dari sudut bela diri, pencak silat menggunakan seluruh bagian anggota tubuh, dari ujung jari tangan, kaki sampai kepala dengan menggunakan senjata atau tanpa menggunakan senjata.
- Fungsi pencak silat untuk pendidikan
Adapun dari sudut pendidikan pencak silat memberikan kemampuan, keterampilan, dan kemantapan untuk mempertahankan dan membela diri terhadap sebuah ancaman bahaya, baik dari dalam maupun luar, serta untuk menjamin keselarasan dengan alam sekitarnya.
- Teknik Pencak Silat
- Sikap Kuda-Kuda
Merupakan sikap dasar dan sikap awal dalam pencak silat di mana posisi kaki tertentu dijadikan sebagai dasar tumpuan untuk melakukan sikap dan gerakan bela serang.
- Sikap Pasang
Selanjutnya adalah sikap pasang. Sikap ini merupakan suatu kesiagaan untuk melakukan pembelaan atau serangan yang berpola dan dilakukan pada awal serta akhir rangkaian gerakan.
- Sikap Tangkisan
Sikap menangkis berguna untuk menahan atau menghindari serangan lawan. Ada beberapa sikap menangkis dalam pencak silat, seperti tangkisan atas, tangkisan belah tengah, dan tangkisan luar.
- Hindaran dalam Pencak Silat
Berikutnya adalah sikap menghindar, tentunya berfungsi untuk menghindari serangan lawan supaya tidak terkena damage.
- Pukulan dalam Pencak Silat
Dalam pencak silat, pukulan dilakukan menggunakan tangan kosong sebagai komponennya. Segala teknik pukulan yang terdapat dalam seni bela diri ini boleh digunakan untuk menyerang bagian-bagian tubuh lawan yang disahkan untuk diserang dalam upaya memperoleh angka.
- Tendangan dalam Pencak Silat
Sama halnya pukulan, tendangan juga boleh digunakan untuk menyerang bagian-bagian tubuh lawan dalam upaya memperoleh angka.
- Variasi Pencak Silat
Dalam pencak silat terdapat variasi serta gabungan teknik yang dapat digunakan. Misalnya variasi pencak silat pada persiapan, pelaksanaan, serta pengayaan.
- Manfaat Pencak Silat
Manfaat yang bisa didapatkan dari seni bela diri pencak silat, antara lain:
- Melatih kesabaran
- Melatih mental
- Melatih konsentrasi
- Melatih kewaspadaan
- Melatih kepekaan
- Melatih kedisiplinan
- Melatih kontrol
- Menambah pengetahuan
- Menjaga tubuh tetap sehat dan bugar
- Menambah daya tahan tubuh
- Reog
Kesenian tradisonal Sunda begitu banyak jenisnya, bahkan setiap wilayah atau daerah memiliki kesenian khas masing-masing. Seni dan budaya merupakan warisan turun temurun dari para leluhur. Salah satu kesenian tradisonal yang banyak digemari oleh masyarakat Sunda adalah Seni Reog.
Mungkin bila mendengar nama Seni Reog ini banyak yang berpikir kesenian dari Jawa Timur, yaitu Reog Ponorogo. Tetapi Seni Reog yang dimiliki oleh masyarakat Sunda berbeda dengan reog dari Jatim. Seni Reog Sunda merupakan sebuah pertunjukan seni yang memadukan antara nyanyian, lawakan, gerakan tari yang lucu, dan Dogdog.
| Kesenian Tradisional Reog Sunda. |
Dogdog merupakan sebuah alat tabuh berbentuk gendang yang terbuat dari kayu yang di bagian tengahnya bolong dan salah satu lubangnya ditutup dengan kulit. Kulit dogdog dikencangkan menggunakan rotan yang dililitkan (wengku), sehingga ketika dipukul akan menghasilkan suara dug atau dog, dari suaranya tersebut alat musik ini diberi nama dogdog.
Alat musik tradisonal dogdog ini terdiri dari empat macam dengan ukuran yang berbeda, dari mulai yang paling kecil sampai yang paling besar. Pemain dalam kesenian tradisional ini bisa laki-laki atau perempuan, dan bisa juga perpaduan antara laki-laki dengan perempuan.
Pada saat pementasannya group ini dipimpin oleh seorang dalang. Dalang memainkan dogdog berukuran 20 cm yang disebut dogdog Tilingtingtit. Wakilnya memegang dogdog yang berukuran 25 cm yang disebut Panempas, pemain ketiga menggunakan dogdog ukuran 30-35 cm yang disebut Bangbrang dan pemain keempat memegang dogdog ukuran 45 cm yang disebut Badublag.
Sebagai pemanis biasanya ditambahkan lagi pemain tamborin/kecrekan sehingga jumlah pemain reog dogdog menjadi lima orang. Selain itu, Seni reog dogdog pun kerap dikolaborasikan dengan gamelan, seperti kendang, saron, bonang, goong, dan alat music tradisonal lainnya, sehingga pertunjukan kesenian ini lebih meriah.
Dalang reog dogdog berperan sebagai pengatur ritme tabuhan, yaitu untuk mempercepat atau memperlambat irama tabuhan. Sosok dalang dalam seni reog ini layaknya seorang pemimpin. Penampilannya serius, sementara yang lainnya berperan sebagai pelawak, terutama pemegang dogdog Indung yang paling besar, memiliki peran sebagai penghibur yang super lucu.
Pertunjukan Seni reog diawali dengan tatalu (intro), yaitu ketika para pemain masuk area panggung sambil menabuh alat musik dogdog sambil berputar mengelilingi area Npanggung, kemudian membentuk barisan.
Setelah tatalu selesai, Dalang membuka pembicaran untuk memperkenalkan group kesenian tersebut. Berikutnya seluruh pemain dogdog memperkenalkan nama masing-masing (nama panggung) dari mulai dalang sampai yang paling ujung.
Dari mulai memperkenalkan nama ini penonton sudah bisa tertawa, karena pemain yang terakhir akan memberikan sebuah lelucon yang akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai melakukan perkenalan, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu tradisonal Sunda seperti kidung, jaipong, dan lagu daerah.
Nyanyian yang diiringi alat musik dogdog ini dipadukan dengan tarian dan lawakan, sehingga nyanyian pun bisa berhenti kapan saja ketika pelawak melakukan aksinya.
Pertunjukan Seni reog memang bukan pentas utama. Waktu tampilnya pun tidak berlangsung lama, biasanya hanya berdurasi sekitar satu jam. Namun meskipun bukan acara utama, seni Reog merupakan acara yang paling dinantikan oleh para penonton karena sangat menghibur dan membuat orang tertawa.
Pertunjukan Seni reog sudah sangat jarang ditemuka. Banyak anak muda sekarang yang tidak mengenal seni warisan dari leluhur suku Sunda tersebut. Pagelaran seni Reog Sunda hanya bisa dijumpai di pinggiran kota, itu pun sudah sangat jarang ditemui. Semoga Seni tradisional Reog Sunda ini tidak akan pernah musnah terkubur oleh zaman.
2. Seni petujukan non tradisional
BAB III
LAMPIRAN DATA POTENSI KESENIAN KAABUPATEN SUBANG